Cerita fiksi

Bagi seorang ibu, memilih pakaian untuk anak seolah sama saja dengan memilih masa depan bagi anak-anaknya. Apalagi untuk anak perempuan, pakaian anak perempuan harus sesuai dengan banyak kriteria, cantik, anggun, mewah, nyaman dan lain sebagainya.

Natha misalnya, ia sudah satu jam memilih dan memilah berbagai koleksi baju yang ada di toko itu hanya untuk mendapatkan baju untuk Tanya. Mata Tanya juga tak henti-hentinya mengikuti gerak tangan sang ini, sampai akhirnya ia melihat satu pakaian yang ia suka, “yang ini saja Bu, aku suka yang ini”, ucap Tanya.

Mendengar perkataan anak-nya, Anisya pun langsung mengambil pakaian yang dimaksud. Ia lalu melihat dan mengamati pakaian itu. Lama ia mengamati pakaian yang ada di tangannya itu, tanpa berkata apapun, akhirnya setelah merasa puas dengan penilaian nya ia pun berkata, “untuk model yang ini ada warna yang lain tidak?”, ia bertanya kepada penjaga toko.

“Kalau yang itu pilihannya lengkap Bu, anda tinggal sebutkan saja warna apa yang anda inginkan”, jawab sang penjaga toko.

Natha pun tersenyum tipis, terlihat ada kepuasan dalam hatinya. Ia pun segera menanyakan kepada Tanya warna yang ia suka. 

“Jangan warna itu, kamu ini, norak, tidak pantas untuk kamu?”
“Tapi Bu…?”
“Iya itu bagus, tapi kalau dipakai kamu pasti tidak akan sesuai”

Akhirnya Tanya pun mengalah kepada ibunya, “Ya sudah, dari pada tidak dapat baju baru”, ucapnya.

Natha memang seorang wanita sekaligus ibu yang sangat memperhatikan penampilan. Bukan hanya untuk dirinya sendiri, untuk seluruh keluarganya ia selalu selektif dalam menentukan pakaian yang akan digunakan, apalagi untuk Tanya anak perempuannya yang masih lugu. Terlihat bahwa tidak ada kompromi sama sekali mengenai pakaian.

“Bu, yang itu bagus!”, teriak Tanya
“Bagus apanya, kamu ingin dianggap murahan! Keluarga kita tidak ada yang berpakaian seperti itu, harus tertutup”, jawab Anisya



Bagi seorang ibu, memilih pakaian untuk anak seolah sama saja dengan memilih masa depan bagi anak-anaknya. Apalagi untuk anak perempuan, pakaian anak perempuan harus sesuai dengan banyak kriteria, cantik, anggun, mewah, nyaman dan lain sebagainya.

Natha misalnya, ia sudah satu jam memilih dan memilah berbagai koleksi baju yang ada di toko itu hanya untuk mendapatkan baju untuk Tanya. Mata Tanya juga tak henti-hentinya mengikuti gerak tangan sang ini, sampai akhirnya ia melihat satu pakaian yang ia suka, “yang ini saja Bu, aku suka yang ini”, ucap Tanya.

Mendengar perkataan anak-nya, Natha pun langsung mengambil pakaian yang dimaksud. Ia lalu melihat dan mengamati pakaian itu. Lama ia mengamati pakaian yang ada di tangannya itu, tanpa berkata apapun, akhirnya setelah merasa puas dengan penilaian nya ia pun berkata, “untuk model yang ini ada warna yang lain tidak?”, ia bertanya kepada penjaga toko.

“Kalau yang itu pilihannya lengkap Bu, anda tinggal sebutkan saja warna apa yang anda inginkan”, jawab sang penjaga toko.

Natha pun tersenyum tipis, terlihat ada kepuasan dalam hatinya. Ia pun segera menanyakan kepada Tanya warna yang ia suka. 

“Jangan warna itu, kamu ini, norak, tidak pantas untuk kamu?”
“Tapi Bu…?”
“Iya itu bagus, tapi kalau dipakai kamu pasti tidak akan sesuai”

Akhirnya Tanya pun mengalah kepada ibunya, “Ya sudah, dari pada tidak dapat baju baru”, ucapnya.

Natha memang seorang wanita sekaligus ibu yang sangat memperhatikan penampilan. Bukan hanya untuk dirinya sendiri, untuk seluruh keluarganya ia selalu selektif dalam menentukan pakaian yang akan digunakan, apalagi untuk Tanya anak perempuannya yang masih lugu. Terlihat bahwa tidak ada kompromi sama sekali mengenai pakaian.

“Bu, yang itu bagus!”, teriak Tanya
“Bagus apanya, kamu ingin dianggap murahan! Keluarga kita tidak ada yang berpakaian seperti itu, harus tertutup”, jawab Natha Bagi seorang ibu, memilih pakaian untuk anak seolah sama saja dengan memilih masa depan bagi anak-anaknya. Apalagi untuk anak perempuan, pakaian anak perempuan harus sesuai dengan banyak kriteria, cantik, anggun, mewah, nyaman dan lain sebagainya.

Natha misalnya, ia sudah satu jam memilih dan memilah berbagai koleksi baju yang ada di toko itu hanya untuk mendapatkan baju untuk Tanya. Mata Tanya juga tak henti-hentinya mengikuti gerak tangan sang ini, sampai akhirnya ia melihat satu pakaian yang ia suka, “yang ini saja Bu, aku suka yang ini”, ucap Tanya.

Mendengar perkataan anak-nya, Natha pun langsung mengambil pakaian yang dimaksud. Ia lalu melihat dan mengamati pakaian itu. Lama ia mengamati pakaian yang ada di tangannya itu, tanpa berkata apapun, akhirnya setelah merasa puas dengan penilaian nya ia pun berkata, “untuk model yang ini ada warna yang lain tidak?”, ia bertanya kepada penjaga toko.

“Kalau yang itu pilihannya lengkap Bu, anda tinggal sebutkan saja warna apa yang anda inginkan”, jawab sang penjaga toko.

Natha pun tersenyum tipis, terlihat ada kepuasan dalam hatinya. Ia pun segera menanyakan kepada Tanya warna yang ia suka. 

“Jangan warna itu, kamu ini, norak, tidak pantas untuk kamu?”
“Tapi Bu…?”
“Iya itu bagus, tapi kalau dipakai kamu pasti tidak akan sesuai”

Akhirnya Tanya pun mengalah kepada ibunya, “Ya sudah, dari pada tidak dapat baju baru”, ucapnya.

Natha memang seorang wanita sekaligus ibu yang sangat memperhatikan penampilan. Bukan hanya untuk dirinya sendiri, untuk seluruh keluarganya ia selalu selektif dalam menentukan pakaian yang akan digunakan, apalagi untuk Tanya anak perempuannya yang masih lugu. Terlihat bahwa tidak ada kompromi sama sekali mengenai pakaian.

“Bu, yang itu bagus!”, teriak Tanya
“Bagus apanya, kamu ingin dianggap murahan! Keluarga kita tidak ada yang berpakaian seperti itu, harus tertutup”, jawab Natha

Tidak ada komentar:

Posting Komentar